Info Selamat datang di website SMP Negeri 1 Banjar - Kota Banjar - Jawa Barat. Silahkan bergabung menjadi member komunitas sekolah klik di sini.
Banner
Portal Guru PembelajarElearning Guru Pembelajar
Login Member
Username:
Password :
Jajak Pendapat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat
Statistik

Total Hits : 477047
Pengunjung : 63406
Hari ini : 42
Hits hari ini : 98
Member Online : 74
IP : 54.226.34.209
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

niwa74    
Agenda
16 December 2017
M
S
S
R
K
J
S
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
Jam

HUKUMAN KEBIRI BAGI PELAKU KEJAHATAN SEKSUAL

Tanggal : 16-05-2016 15:20, dibaca 373 kali.

Menganggapi isu adanya hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual, secara umum saya pribadi setuju-setuju saja. Bahkan sampai ke hukuman matipun setuju. Namun yang perlu diperhatikan bukan hanya hilir dari permasalahan tersebut melainkan hulu dari permasalahan yang menimbulkan menjamur dan mewabahnya perilaku kejahatan seksual tersebut. Sebagaimana apa yang diungkapkan oleh Bupati Bogor Bima Arya dalam media Pikiran Rakyat Edisi Sabtu, 14 Mei 2015 Hal 13, bahwa pembinaan di hulu, yakni keluarga, institusi pendidikan dan lingkungan masyarakat menjadi awal mula pembentukan moral dan karakter. Menurut beliau pembebasan gawai, akses internet, gadget, games dan sebagainya merupakan salah satu faktor yang menjadi pemicu dan pendorong maraknya kejahatan seksual. Jadi bukan hilirnya saja yang harus menjadi prioritas tetapi hulunya yang harus di tata kelola ulang agar perilaku tersebut tidak terulang pada generasi berikutnya.

Saya sendiri berpendapat, bahwa pendidikan karakter di keluarga dalam hal ini pembentukan moral dan akhlak menjadi titik permulaan agar anak-anak senantiasa memahami mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk. Pemahaman tersebut bertitik tolak dari pembinaan keagamaan yang saat ini sudah bergeser dan seolah-olah tidak lagi menjadi beban keluarga tetapi menjadi beban institusi/lembaga agama saja. Dapat kita lihat sehari-hari bahwa anak-anak sudah tidak lagi mau ke mesjid, tidak mau lagi mengaji, tidak mau menurut lagi pada orang tua, membangkang, memerintah orang tua, tidak menghormati dan menghargai orang tua. Lebih parah anak kadang sudah terbiasa membalikan keadaan kepada orang tua dengan kata-kata “ach..bapa juga…” atau “ach..ibu juga…”. Hal ini tentunya menjadi cerminan bahwa peran orang tua disini tidak hanya merintah saja tetapi memberikan contoh yang nyata dan faktual agar perilaku anak-anak kita mengikuti apa yang kita katakan. Artinya harus bersifat Tutwuri Handayani.

Contoh lain dari kemunduran moral dan akhlak siswa baru-baru ini, banyak kita lihat perilaku anak-anak sekolah yang uforia menikmati kelulusannya dengan berbagai fose. Ada yang berfose sensual, ada yang membelah roknya sampai atas,  ada yang memotong roknya menjadi pendek,  dan beragai perilaku yang menurut pendapat saya sangat tidak mencerminkan sebagai seorang pelajar. Kalau saya telaah perilaku anak tersebut sudah tidak lagi memikirkan akan harga dirinya, orang tua/keluarganya, sekolah/lembaganya apalagi memikirkan orang lain yang melihatnya.

Selain contoh di atas, sekarang banyak kejadian guru di sekolah dipersalahkan oleh orangtua siswa karena anaknya ditegur, atau dimarahi gurunya. Hal tersebut sangat aneh…..mengingat guru disini kapasitasnya ikut berperan mendidik moral dan akhlak siswa tersebut. Eh….malah dipersalahkan orang tua siswa dengan alasan itu atau alasan ini. Padahal semestinya orang tua memahami sejak awal bahwa siswa tersebut dititipkan melalui Penerimaan Siswa Baru (PSB) atau Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada sekolah/lembaga tersebut semata-mata untuk ikut membantu mendidik dan membimbing anak tersebut kearah yang lebih baik. Dengan segala konsekuensi semua aturan yang berlaku pada sekolah/lembaga tersebut harus di pahami dan dimengerti oleh semua pihak khususnya orang tua siswa.

Dengan salah satu contoh tersebut di atas, orang tua terkesan tidak dihargai oleh guru, padahal kalau di cermati tidak ada guru yang memarahi siswanya karena mengerjakan hal yang baik. Dan tidak ada guru yang memarahi atau menegur siswa karena gurunya tidak senang pada orang tuanya. Hal tersebut semata-mata wujud tanggung jawab guru kepada anak didiknya.

Isu HAM menjadi pegangan untuk memputarbalikan fakta…yang benar dikatakan salah, yang salah dikatakan benar.

Selain itu, menurut saya pemerintah semestinya lebih proaktif dengan membuat akses kontrol internet (Informasi dan komunikasi) menjadi terpusat, sehingga informasi yang keluar dan masuk ke dalam wilayah kedaulatan Republik Indonesia di filter dulu dan bias dikendalikan.

Semua layanan informasi dan komunikasi baik lokal maupun global harus terkendali agar system keamanan lebih terpantau. Apalagi dunia cyber yang sangat rentan.

Jadi perlukah hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual?  Itu hanya salah satu usaha pencegahan.

Semua itu adanya sebab dan akibat.  Saya kira yang lebih penting bagaimana menyelamatkan generasi berikutnya dari hulu hingga hilir agar tidak mengulangi perilaku yang sama.



Pengirim : admin
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas